Tentang Standar Kebahagiaan
Dalam pikiranku aku ini pecundang, semakin dewasa semakin tak paham harus berjalan kemana.
Aku ingin melangkah tapi tak paham arah. Sementara ku lihat mereka yang seumuran atau bahkan lebih muda dariku sudah mantap menapaki jejak-jejak kesuksesan, berjalan menaiki tangga-tangga keberhasilan.
Aku diam, menutup diri menjauh dari sekitar tapi pikiranku tetap ada di sana. Dia sedang membanding-bandingkan pemiliknya dengan jiwa-jiwa yang lain.
Aku melepaskan diri dari kumpulan, menjauh karena merasa aku tak punya artian. Sementara mataku terus melihat gambar demi gambar yang terpajang di sosial media, tentang mereka yang sudah bahagia dengan segala pencapaian.
Berkarir, berpasangan, berhasil, bermateri, bahagia sekali.
Lalu pertanyaan itu muncul, kapan waktu ku?
Benih putus asa itu lama-lama tumbuh menjadi racun yang menggerogoti ku, mengentaskan segala kelebihan yang ku punya menjadikannya tak terlihat juga menjadikan kekurangan sebagai satu-satunya bayang di pelupuk mataku.
Aku merasa hampa dan tak berharga, aku merasa aku hanya sampah. Ah bagaimana mungkin ini terjadi pada fase dimana aku sudah benar-benar matang dalam berpikir. Bagaimana mungkin gelisah-gelisah ini datang pada saat aku mulai serius ingin punya hidup yang tertata.
Tuhan apa ini, aku sama sekali tak mengerti.
Rasanya kacau, krisis dan tak mengenali diri sendiri.
Siapa ini, siapa yang sedang ada di dalam pikiran ini?
Kataku, kala itu.
Tapi itu dulu, saat dimana aku meletakkan dunia sebagai standar kesuksesan dan standar kebahagiaan. Ketika aku menempatkannya pada urutan pertama dalam list target pencapaian. Saat aku lupa untuk apa aku di ciptakan, saat aku tak mau paham kalau semua punya masanya sendiri.
Itu dulu, saat syukur tak ku letakkan di atas segala pemberian. Padahal segala nikmat jauh lebih banyak dari pada ujian, bahkan di antara ujian Dia berikan kebaikan.
Itu dulu, sebelum aku duduk berdua dengan diriku sendiri. Bicara dan bertanya pada hati untuk apa aku dihidupkan disini, tentang apakah yang Dia inginkan dari diri ini.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِ نْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
wa maa kholaqtul-jinna wal-insa illaa liya'buduun
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."
(QS. 51: 56)
Komentar
Posting Komentar