Sekedar Singgah
Apa yang ditakdirkan Allah sudah pasti lebih baik dari yang sekedar di inginkan hambaNya. Setiap yang singgah pasti punya cerita masing-masing, tak jarang pulangnya meninggalkan bekas ; kenangan namanya. Ada yang manis ada juga yang pahit, katanya kenangan akan selalu begitu. Kalau di suruh memilih dua di antaranya saya pasti akan memilih yang disukai, yang indah-indah tentu saja.
Kemarin saya sempat kuliah di salah satu universitas, hanya satu semester dan harus berhenti karena satu dan lain hal.
Manusiawi kalau sedih, karena batas pemikiran yang masih condong ke dunia saja. Kala itu, tangis buncah. Peluk satu-satu yang di sayangi, setelahnya kembali menepi dan menjalani hal yang jauh berbeda.
Mengambil hikmah dari setiap yang terjadi tidak semudah yang dikatakan atau lebih tepatnya tidak akan mudah kalau tidak minta dikuatkan dan dimudahkan, kepada yang Mengatur, kepada Sang pemilik segala lini kehidupan.
Katanya hikmah itu selalu ada dalam setiap kejadian, Allah memberikan kebaikan demi kebaikan bahkan dari usaha yang hasilnya tidak sesuai dengan yang di harapkan. Bagaimana pun itu tetap ada kebaikan yang bisa kita ambil di dalam nya.
Pohon memiliki hikmah, daun yang jatuh juga memiliki hikmah, memandang langit memiliki hikmah. Bahwa apapun yang tumbuh berasal dari benih yang awalnya lemah, apa yang jatuh sudah ditakdirkanNya dan atap bumi tanpa tiang itu adalah tanda kekuasaanNya.
Kemarin saya sempat sedih karena usaha untuk menggapai mimpi ternyata membuahkan hasil yang jauh dari harapan saya. Kemarin buku tulis itu berisi berbagai macam kosa kata bahasa Inggris, sekarang ternyata semua berubah menjadi catatan kajian juga bahasa Arab. Semua tentu saja atas kehendakNya, apa yang ingin saya tulis berubah menjadi apa yang diinginkanNya dan tentunya yang lebih baik untuk saya menurut Sang Maha Pengatur bumi.
Sekarang saya merasa lebih baik daripada diri saya yang dulu. Ternyata setiap singgah tidak hanya kenangan yang di rajut tapi ada yang lebih berarti yaitu apa saja yang bisa di ambil dan dijadikan pelajaran, seberapa banyak ilmu yang sudah di dapatkan, seberapa banyak pemikiran-pemikiran baru yang di temukan.
Saya sempat menyesal tak menggunakan waktu sebaik-baiknya ketika masih belajar di sana, ternyata datang lalu pergi tapi masih berpijak di dunia yang sama pun bisa menyesal kalau menyia-nyiakan kesempatan.
Lalu bagaimana kalau memilih untuk menyia-nyiakan waktu di dunia ini? Singgah di dunia dan pergi ke kehidupan yang jauh berbeda, sendirian dan hanya berteman amal. Kalau tidak punya bekal? Nyesal nya seperti apa?
Ada satu, sepuluh, seribu atau bahkan sejuta kebaikan dari setiap kejadian. Tak selalu baik menurut pandangan yang tak banyak tahu ini, kadang sedih dan kadang benar-benar letih.
Tapi lain bagi Allah yang tidak mungkin memberikan keburukan kepada hambaNya. Keburukan hanya datang dari kita, kebaikan datangnya dari Allah. Taat lah kepadaNya, hidupmu Allah yang aturkan.
Semoga kita termasuk orang-orang yang bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian dan memahami hakikat singgah yang sebenarnya.
Komentar
Posting Komentar