Review Film Cream & Tilik

Sejak di rumah aja, banyak dari kita yang mengisi waktu luang dengan menonton film. Sebelum menonton film biasanya kamu akan cari tau tentang film tersebut kan? Nah kali ini saya mau review dua film sekaligus yakni Cream dan Tilik.

1. Cream ( 2017 )
David firth menggarap film ini dengan konsep animasi yang apik. Film cream ini bercerita tentang seorang ilmuwan bernama Dr Jack Bellifer yang setelah 6 tahun akhirnya mempublikasikan penemuannya yakni sebuah produk bernama Cream. Produk ini memiliki berbagai kelebihan yang ajaib, di juluki "The Everything Fixer" yakni produk yang bisa memperbaiki semua hal.

Di awal cerita Dr. Jack Bellifer mensosialisasikan produk nya di depan banyak orang dengan menggunakan cream di wajah seorang wanita yang berjerawat, dalam sekejap wajah wanita tersebut pun menjadi membaik tanpa bekas. Cream juga bisa menyembuhkan banyak hal lain mulai dari bentuk wajah yang tidak sempurna,  patah kaki, orang yang koma hingga bisa menghasilkan emas.

Tak hanya itu cream juga bisa membuat otak lebih cepat bekerja hanya dengan menyuntikkan nya, mengubah sebuah mobil menjadi mobil mewah, membuat bahagia "Cream Yourself Happy" dan menumbuhkan pohon.

Ketika bahan untuk membuat cream menipis muncul lah suatu kualitas baru dari cream yakni bisa menggandakan sesuatu termasuk cream itu sendiri sehingga produk ini tidak akan habis. Ketika beberapa orang begitu mengagung-agungkan cream muncul sebuah spekulasi hingga isu-isu bahwa cream di buat dari mayat bayi dan bisa menyebabkan AIDS ketika seseorang memakan makanan dari hasil menggandakannya menggunakan cream ini. Selain itu juga muncul isu bahwa Dr. Bellifer sang penemu cream adalah seorang pemerkosa .

Munculnya stigma dan isu-isu tersebut membuat cream menjadi tak berarti lagi, penemu cream yakni Dr. Bellifer menjadi perbincangan dan tentunya di benci banyak orang. Cream yang awalnya di juluki "The Everything Fixer" menjadi "The Problem Causer" penyebab berbagai masalah. Sampai akhirnya Dr. Bellifer di tahan dan tidak akan bisa menginjakkan kaki nya di laboratorium lagi

Film ini menunjukkan ketika suatu produk telah dijadikan sebagai solusi dari semua permasalahan, akan timbul spekulasi-spekulasi dari orang-orang yang tidak menginginkannya ada atau mereka yang merasa tersaingi ini relate sekali dengan kehidupan kita sehari-hari. Kita juga bisa melihat di film ini betapa penggiringan opini benar-benar mempunyai efek yang besar bagi suatu produk hal ini dapat di lihat setelah cream tidak berharga lagi muncul lah suatu produk baru yang serupa tetapi dengan label yang lebih aman, meski tak seajaib cream.

Film ini juga menunjukkan tentang betapa besarnya teknologi itu sendiri berkembang. Cream membuat uang tak lagi berharga bahkan orang-orang tidak lagi memerlukan satu sama lain, mereka hanya perlu cream and everything will be fixer, semua akan teratasi.

2. Tilik ( 2020 )
Film berdurasi 32 menit ini hanya memfokuskan di satu adegan saja sesuai dengan judulnya yakni perjalanan "Tilik" menjenguk Ibu Lurah yang sedang sakit menggunakan sebuah mobil truk. Untuk orang yang sangat tidak suka mendengar ghibah-ghibahan film ini bisa menyebabkan kesal yang tak karuan kendati demikian apa yang di suguhkan baik cara berbicara juga gerak tubuh dan ekspresi wajah para tokoh di dalam film ini sangat natural dan tidak terkesan di buat-buat apalagi tokoh utama yakni bu Tejo. Saya seperti tidak sedang menonton film tapi berada di antara ibu-ibu tersebut, bising sekali.

Film ini benar-benar mencerminkan kehidupan ibu-ibu dari sisi perghibahan. Tapi serius ini jangan di tiru, hehe.
Di ceritakan sosok bu Tejo yang melek teknologi dan up to date menjadikannya sebagai provokator sepanjang perjalanan. Dian yang cantik dan sudah cukup umur tetapi tidak juga menikah digosipkan bu Tejo memiliki pekerjaan yang tidak baik. Bukan tanpa sebab hal ini dikarenakan Dian berasal dari keluarga yang biasa saja, tidak kuliah dan baru bekerja tetapi sudah bisa membeli barang-barang bagus. 
 
Ada juga tokoh Yu Ning yang berbeda jauh dari bu Tejo, Yu Ning sendiri lebih bisa menahan diri juga memberikan saran untuk memfilter segala informasi yang terseba terlepas dia adalah kerabat dari Dian yang sedang di bicarakan.

Di sisi lain film Tilik juga mengangkat mitos-mitos zaman dulu, terlihat ketika Bu Tejo kebelet. Yu Ning memberikan karet untuk mengikat jempol agar keinginannya untuk buang air kecil bisa di tahan. Film ini juga menekankan pada kejamnya emak-emak kalau sudah marah hal ini di lihat ketika truk yang mereka tumpangi di stop oleh polisi.

Pada akhir cerita film ini menyuguhkan ending yang cukup mengejutkan. Gimana akhirnya? Ya tonton aja.

Terlepas dari benar atau salahnya informasi yang di berikan oleh bu Tejo sebenarnya menyebarkan dan membicarakan kejelekan orang bukan hal yang bisa di jadikan pembenaran. Perilaku "Julid" ini sendiri adalah sesuatu yang merugikan, tidak bermanfaat dan menimbulkan kebencian. Film-film seperti ini tentu saja memiliki usaha yang besar tetapi ketika di tonton oleh orang yang tidak bisa membedakan mana yang negatif dan positif akhir cerita dari film ini bisa berdampak pembenaran akan apa yang di lakukan bu Tejo.

Sebenarnya kedua film ini di sajikan dengan premis yang tidak rumit, dengan durasi yang tidak begitu lama apalagi film Cream yang hanya berdurasi 12 menit tak menjadikannya film yang biasa saja. Ini adalah salah satu hal yang bisa di jadikan referensi, bahwa menulis skrip tak harus panjang dan terlalu banyak konflik. 

Di film ini kita belajar bagaimana kemudian sesuatu yang sangat sederhana, di sajikan dengan natural serta konsep yang juga sangat sederhana bisa menghasilkan karya yang luar biasa. Seperti film Cream yang bahkan sudah di tonton kurang lebih 12jt kali.

Film Cream dan Tilik sendiri memberikan satu pelajaran yang hampir sama, yakni bagaimana kekuatan informasi dan efforts penggiringan opini bisa sangat mempengaruhi persepsi seseorang. Terlihat dari informasi-informasi yang tersebar tentang cream yang kemudian mempengaruhi masyarakat untuk membenci sesuatu yang awalnya di eluh-eluhkan juga informasi yang di sebarkan bu Tejo yang kemudian mempengaruhi ibu-ibu untuk menggunjingkan Dian.

Teknologi membuat informasi menjadi begitu cepat tersebar luas, tak hanya itu sebuah hasrat dengki dan ingin terlihat lebih baik bisa membuat orang melakukan usaha sedemikian rupa untuk setidak-tidaknya menjelekkan saingannya.

Sebuah film tentu saja memiliki usahanya sendiri-sendiri, tak salah jika kita memilih untuk meniru apa yang telah sukses di tujukan ke masyarakat banyak, tetapi yang saya sarankan hanya dari bagaimana cara mereka menggarap sebuah film. Terlihat sederhana tetapi menghasilkan karya yang luar biasa. 

Namun pada sebuah nilai, semua itu bisa di kembalikan kepada masing-masing author itu sendiri dan juga persepsi dari siapa yang menonton.

#OneDayOnePost 
#ODOP 
#ODOPChallenge2

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Depresi

Memandang Langit

Untukmu, Dari aku