Me, Myself and I


Kenalin namanya Nurafrina tapi karena salah bikin akta kelahiran namanya jadi Nur Aprina, di panggil nur sama temen-temen yang gak mau ribet, di panggil afrina oleh guru di sekolah, kadang ada temen yang manggil afrii, af, nuraf dan nuy. Ya terserah mereka aja yang penting aku nengok kalau di panggil.

Lahir 21 tahun lalu, tahun 1999. Udah jangan tanya tanggal ya karena aku gak terlalu suka di ucapin ulang tahun, cieela gayaa

Pas lihat ada challenge ini yang pertama kali ku pikirkan adalah susah, karena aku memang bukan manusia yang mau cerita tentang diri sendiri. Aku lebih memilih menyimpan, membiarkan orang lain menemukan persepsi mereka masing-masing, semacam "kalau mau tau ya di liat aja karena -Saya adalah apa yang anda lihat-" atau kalau mau cerita pun, aku hanya ingin cerita ke dia yang benar-benar ku anggap paham.

Sebenarnya agak ragu kalau harus menuliskan kisah tentang diri sendiri, tapi untuk kali ini semoga yang tertulis memberikan manfaat barang hanya sejumput.

Sekilas tentang diriku, aku anak ke lima dari lima bersaudara, punya satu kakak laki-laki dan tiga kakak perempuan. Masa kecil ku sampai sekarang di usia 21 lebih banyak ku habiskan di kota kecil sebelah selatan pulau Sumatera. Sorry belibet, biar kalian mikir wkwk.

Sekarang aku masih tinggal bersama abah dan semua kakak ku sudah menikah, ibu sudah meninggal 12 tahun lalu kalau tidak salah waktu aku masih kelas 3 sd.

Ibu sudah sakit-sakitan sejak aku masih kecil. Kalau sedang melakukan pekerjaan-pekerjaan berat ibu pasti sesak nafas. Setiap malam sering ku dapati beliau duduk terbangun dari tidurnya dan tangan kecil ini hanya bisa menggosok-gosok punggungnya. Katanya kalau begitu sakitnya berkurang. Dulu ketika diminta mengambilkan air minum oleh ibu, tak lepas aku berdoa semoga sakitnya segera hilang.

Tidak banyak yang aku ingat, kecuali hanya beberapa saja karena masih terlalu kecil saat itu.

Sebagai anak terakhir, di manja itu sudah pasti tapi di pukul dan di cubit nampaknya adalah hal yang pasti di rasakan semua anak. Kadang aku berpikir, bagaimana mungkin sesuatu yang menyakitkan malah membuat kita senang mengenangnya hanya karena dia sudah tidak ada di sisi dan karena hanya itu kenangan yang kita punya. Berharga.

Di sisa-sisa umurnya, aku adalah yang terakhir datang menatap wajahnya. Kala itu ibu di bawa ke rumah sakit sedang aku di tinggalkan di rumah tetangga, sendirian. Tengah malam di jemput dan di ajak ke rumah sakit, katanya ibu sudah benar-benar parah sakitnya. Malam itu kalau aku sudah bisa menulis mungkin akan ku tulis kalau "langit terasa kelabu". Ku pandang wajahnya, ada bulir bening yang mengalir membasahi pipi nya. Di bimbing kakak aku mengusap wajahnya, "Maafin adek.." itu kata yang terucap dari diri ini. Sesaat kemudian, pemilik wajah itu sudah pergi. 2008, 12 tahun yang lalu.

Ternyata yang kala itu membuatku menangis, adalah sesuatu yang tidak pernah sedikitpun ingin aku lupakan. Dalam hidup ini mungkin juga begitu, yang menyedihkan dan menyakitkan besok-besok bisa jadi itulah yang ingin kita kenang. Setiap esensi sakitnya, setiap rasa nya , menusuk , merasuk dalam kalbu.

Setiap mengingatnya, mata ini selalu basah. Air mata rindu, bukan air mata protes karena setiap yang bernyawa akan merasakan mati dan takdir Allah adalah sebaik-baik ketentuan. Dunia ini cuma tempat menyiapkan bekal, setiap insan akan merasakan kehilangan.

Karena hidup hanya sebuah persinggahan, semoga di waktu yang tidak banyak ini kita bisa lebih banyak menghargai setiap yang  masih ada di sisi, terlebih lagi orang tua sebagai tempat berbakti. Semoga kita bisa lebih banyak berusaha menyiapkan bekal pulang. Dan semoga tulisan ini ada manfaatnya barang sejumput, membasuh keluh kesah dan membasahi hati yang mungkin sedang kering dan menunggu hujannya.

Aku sekolah di SDN 4 Kayuagung, SMPN 1 Kayuagung dan SMKN 1 Kayuagung, sempat kuliah satu semester di satu Universitas dan Qadarullah harus berhenti karena satu dan lain hal.

Setelah berhenti kuliah aku sempat bekerja di salah satu kota, gak mau sebut nama pokoknya. Awalnya pergi hanya untuk menyembuhkan kecewa, akhirnya jadi pengalaman yang berharga. Karena pandemi 2020 kemarin akhirnya ku putuskan untuk berhenti bekerja dan sekarang sedang di rumah membersamai abah.

Mencari ilmu bagiku seumur hidup, memperkaya pemahaman bagiku tak kenal tempat dan waktu, dimana pun dan kapanpun kita harus selalu mau.

Tidak ada pencapaian selain menjadi insan yang terus belajar, memperbaiki apa yang salah, menyempurnakan apa yang jauh dari kata sempurna meski tak akan sampai di tahap sempurna kita selalu bisa berusaha. Itu yang sedang aku lakukan sekarang.

Aku dan Diriku

Katanya orang itu ada yang introvert, ada yang ekstrovert, ada yang amfibivert *eh. Sebenarnya aku sama sekali gak paham tentang teori ini, tapi kalau sekilas dilihat. Iya aku adalah xdjsnicsjkxjw - manusia

SMK aku sering duduk sendiri di depan kelas, dengan headset atau earphone. Sendiri cuma ngeliatin rumput yang di tiup angin. Ini jujur klise tapi benar-benar terjadi, ya begitulah aku. Di temani lagu "Nidji - Bila aku jatuh cinta" membuat masa istirahat ku di sekolah jadi sendu.

Beberapa saat setelah itu ada adik kelas datang dan bilang dalam bahasa Palembang "Yuk dak katek kawan eh?" yang artinya "Mba gak ada temen ya?" Ku tanggapi santai, sebab memang sudah biasa di bilang seperti itu. Pernah juga sekali ketika aku kemah pas pramuka ada salah satu peserta yang bilang "Nur ngomong dong, ngomong jorok juga gak papa" Saking diamnya aku.

Aku dan diriku yang kalau di rumah tiduran di kursi dekat jendela yang bisa lihat awan, ku foto dan ku balik, persis kayak sedang naik pesawat. Aku ingin terbang tapi takut tinggi, ya begitulah.

Aku suka lihat langit, lampu-lampu di jalan dan juga laut. Kalau malam, mereka semua jadi satu dan momen itu bener-benar sempurna. Aku bahagia atas hal-hal yang sederhana, sesedernaha memperhatikan semua ciptaanNya, sisi baik dari dunia yang selalu menyimpan cerita dan bahkan gak semesta paham.

Aku dan buku

Aku gak punya banyak buku, ada beberapa dan yang lain biasanya cuma boleh minjam ke temen. Aku paling suka puisi lalu membayangkan artinya, halu kata orang? bukan, beda lagi. Puisi selalu menyimpan rahasia kadang di artikan setiap orang dengan berbeda, aku bahkan harus mengulang beberapa kali baru akan paham makna nya. Aku suka puisi tapi gak pinter bikin puisi, ya begitulah kadang kita hanya suka tapi tak bisa memilikinya sendiri. eh gimana gimana..

Aku suka tempat-tempat yang ada buku entah cerita, puisi, hingga psikologi aduh aku benar-benar suka. Bahkan saking suka nya aku bolak-balik ke masjid selain sholat, ya karena mau baca buku di sana. Aku suka cara orang nulis kata-kata, menjadi wakil dari setiap perasaan manusia bahkan aku bisa sampai senyum-senyum sendiri bacanya.

Hujan, buku, teh, dan dia sempurna dalam pikiranku.

Aku dan Menulis

Aku introvert? bisa jadi.
Yang jelas aku ini kaku tidak seperti tulisanku, aku bukan palsu tapi memang menulis adalah lini paling menyenangkan untuk mengungkapkan perasaan, aku lebih mudah bercerita dengan tulisan dari pada lisan, kecuali dengan orang-orang tertentu.

Aku merasa aneh, sebab tidak seperti yang lain. Nulis-nulis-nulis dan hey, adakah penulis yang juga merasakan apa yang aku rasakan? aku benar-benar pingin tahu.

Aku merasa aneh ketika mereka seusiaku memposting kegiatan-kegiatan mereka dan aku masih setia dengan tulisan yang gak ada habisnya. Ketika teman-temanku posting foto dan caption emoji saja, aku terus-terusan posting foto dengan sekumpulan kata-kata.

Aku dan Apa yang diberikanNya

Aku seringkali gak mau sadar dan seringkali gak mengenali diri sendiri. Dasar aku, manusia.

Aku dan apa yang diberikanNya, aku dan apa yang ada dalam diriku, aku dan apa yang bisa aku lakukan. Aku percaya kalau semua kata-kata yang telah tertulis adalah apa yang memang Allah sudah tetapkan untukku, tidak ada yang kebetulan bahkan nyamuk yang sedang mendarat di raga ini adalah atas dasar perhitungan yang rinci.

Sekarang hanya ada dua pilihan. Menjadikannya ada dalam kebermanfaatan atau sekedar jadi tempat untuk mencurah-curahkan sindiran kepada sesama? Ah gak ada manusia yang ingin jatuh pada pilihan yang buruk.
Jadi aku ingin menulis bukan sekedar menulis, aku menulis bukan untuk melemparkan sindiran atau apapun itu. Aku menulis untukmu, untuk diriku dan juga untuk Dia.

Dan ku harap kamu juga begitu, kamu dengan semua yang ada dalam dirimu. Dengan semua yang bisa kamu lakukan.

"Kita jangan jadi biasa saja ya, kita harus jadi luar biasa" Kata seseorang kala itu, yang semoga dia selalu jadi salah satu alasan diri ini menulis.

Aku yakin kita selalu punya sesuatu yang spesial untuk di bagi ke orang lain biarpun sedikit semua akan ada hasilnya, karena itu aku ingin menulis untuk jadi bagian dari mereka yang berjuang memperkaya referensi.

Semangat berbagi dan selamat menulis untuk yang suka nulis, dan semangat melakukan apapun yang kamu bisa untuk yang gak suka nulis. Semoga kita selalu jatuh dalam pilihan-pilihan baik.

Lovenuy

# ODOP
# OneDayOnePost
# ODOPChallenge3

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Depresi

Memandang Langit

Untukmu, Dari aku