Pertama kali coba bikin cerpen kok gini? - Bubur kacang ijo

Berawal dari request-an temen, gue yang gak berbakat ini di minta buat bikin cerpen. Karena kemarin lagi bikin bubur kacang ijo, pas udah masak gue duduk di dapur sambil makan bubur dan bikin cerpen seadanya ini. Judulnya ya...

Bubur kacang Ijo

*mohon di ingat ini bukan resep!


Bubur itu ada di dalam ruang tertutup di kelilingi salju putih atas dan bawah, kanan juga kiri. Tadi pagi ibu beli 3 bungkus di tukang sayur harganya tiga ribu rupiah,sudah di masak dan di bungkus menggunakan plastik putih kecil. 

Sang kakak sudah makan lebih dari separuh, kenyang juga makan bubur pagi-pagi sampai nasi goreng buatan Ibu tidak di sentuhnya lagi. Tadi pagi adiknya sedang asik nonton kartun di televisi jangankan di suruh makan nasi goreng, bubur kacang ijo itu juga tidak mampu menggubrisnya sedikitpun.

Sore ini selepas mandi dan memakai baju tidur gambar teddy bear sang kakak membuka kulkas. Di bagian bawah isinya hanya ada sayur, sedangkan di atas ada rombongan ikan yang kedinginan membeku. Kulkas itu hampir rusak makanya ibu meletakkan ikan di dalam freezer.

Sang kakak menggoreskan tangannya ke dasar salju-salju itu meraup es putih dingin dan segar, lalu memasukkannya ke dalam mulut. Tidak peduli dengan ikan, yang penting ini menyenangkan.

Tak lama matanya tertuju dengan cangkir plastik hijau di sebelah kanan ikan, apa ini? Bubur. Bukan bukan, lebih tepatnya rezeki. Dalam waktu 5 menit bubur itu sudah lenyap masuk ke dalam perutnya. Nikmat sekali sore-sore begini makan es bubur kacang ijo, gak kalah nikmat kalau di makan pagi-pagi. Sang kakak juga sempat berpikir kayaknya kalau malam ataupun shubuh makan bubur kacang ijo tetap saja enak.

Di kamar ternyata ibu sedang membangunkan adik yang tidur, menyuruhnya mandi dan menjanjikan es bubur kacang ijo. Sang adik lalu menuruti perkataan ibu, dengan iming-iming makanan tentu saja anak kecil selalu mau.

Tak lama berselang, ia menanyakan janji ibu nya
"Bu, mana buburnya?" tanya sang adik
"Di kulkas" Kata ibunya santai
Sang kakak melihat ini hanya diam, bingung mau berkata apa, sebab tadi pagi jatahnya sudah dia habiskan dan sore ini dia juga memakan punya adiknya.

"Dimana bu?" Tanya sang adik sedikit berteriak
"Di freezer" Kata ibu lebih keras
"Gak ada" Kata sang adik, mendengar itu ibu mendekatinya memastikan.
"Loh kemana?" Tanya ibu nya
Sang adik menjauh, merajuk tanpa mengatakan sepatah kata pun sedang ibu melirik sang kakak, dia diam. Kikuk dan merasa bersalah.

"Nanti ibu ganti dengan susu ya" Kata ibunya sedikit berteriak
"Yang dingin" Kata sang adik, masih dengan gaya merajuk nya.

Ibu pun membuatkan susu dan memasukannya ke dalam freezer biar cepat dingin lalu melanjutkan memasak. Tak berselang lama sang kakak berkali-kali membuka kulkas, menyentuh cangkir susu itu.

Ternyata di kali ketiga, ibu melihatnya lalu bergegas mematikan kompor dan mendekatinya.

"Kamu kan sudah makan bubur punya adikmu, masa sekarang susu nya mau di minum juga" Kata ibu marah, sang kakak hanya diam.

"Kalau ada makanan tuh di bagi-bagi, jangan seenaknya sendiri" Kata ibunya melanjutkan, sang kakak tetap diam.
"Kalau ibu ngomong ya diingat" Kata Ibunya lagi.

"Aku cuma memastikan" Kata sang kakak, membela

"Memastikan apa?" Kata ibunya

"Memastikan susu nya cepat dingin" Katanya menjawab dengan suara menahan tangis, ibunya diam.

Sang kakak berlari ke kamar membenamkan wajahnya di bantal. Tak lama ibu menyusulnya.
"Maaf ya" Kata ibunya seraya mengelus kepala anak 6 tahun itu. "Ibu tidak tau" lanjutnya.

Sang kakak memejamkan matanya, pura-pura tidur hingga akhirnya benar-benar tertidur. Sontak saja ibunya merasa bersalah.

Malamnya ketika ayah pulang, ibu menceritakan kejadian sore tadi kepada suaminya itu.

"Kamu tau menjadi orang tua kadang-kadang membuat kita lebih banyak berprasangka" Kata suaminya "Karena sudah merasa paling tahu" Lanjutnya.

"Menjadi lebih tua kadang membuat kita merasa kita yang selalu benar, padahal tidak banyak bedanya antara tua dan yang muda, antara ibu dan anak-anaknya kecuali mengerti dan belum mengerti, kecuali paham dan dalam proses menuju paham" Istrinya diam, paham.

"Kak, kakak sedang apa?" Kata ayahnya, ini kalimat yang biasa dia katakan dengan isyarat memanggil anaknya.

Sang kakak mendekat, "Iya ayah" katanya.

"Kalau ayah punya satu permen, ayah harus gimana biar kamu dan adikmu sama-sama makan?" Tanya ayahnya
"Di bagi dua yah" Jawabnya singkat
"Kira-kira ada yang keberatan tidak kalau permennya ayah bagi dua?" Tanya ayahnya lagi
"Tidak ada" Katanya
"Jadi?" Katanya ayahnya bertanya.

Sang kakak mengerti apa yang di maksud ayahnya dan dia menyesali perbuatannya. Ibunya juga sama menyesal nya, ternyata dalam proses berkeluarga belajar tidak hanya harus dilakukan oleh anak-anak saja melainkan oleh segala peran yang ada di dalam rumah. Punya kesalahan bukan suatu keburukan, melainkan suatu proses menuju kesadaran bahwa jalan ini masih panjang dan masih banyak yang harus dibenahi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Depresi

Memandang Langit

Untukmu, Dari aku