Muda Terpedaya Muda Tak Berdaya

Lifestyle adalah gaya hidup seseorang, di zaman ini seringkali lifestyle berhubungan erat yang yang namanya tren, apa yang trending itulah yang di jadikan lifestyle.

Lifestyle anak muda sekarang adalah apa yang kita lihat paling banyak diagungkan. Semakin hari, semakin banyak kata-kata dan istilah-istilah baru, tren-tren baru, semua yang baru-baru.

Sebagai seorang muslim, beriman artinya mengakui bahwa tiada Tuhan yang berhak di ibadahi dengan benar kecuali Allah, serta meyakini bahwa Rasulullah Muhammad shallallahu'alaihi wassallam sebagai utusan Allah. Ini juga berarti kita bersedia untuk berusaha mengikuti setiap yang Rasulullah lakukan, sebagai role model dalam kehidupan dengan tak mengharuskan kita meninggalkan apa yang yang sudah berkembang. Artinya boleh-boleh saja mengikuti perkembangan zaman dengan berbagai teknologi yang tersedia tersebab pintarnya otak manusia, anugerah dari Sang Pencipta. Tapi semua yang ada, semua yang berkembang, semua yang tren haruslah di pandang dengan kaca mata Islam.

Entah sudah berkurang atau tidak, nyatanya kemarin-kemarin prank adalah suatu konten yang laris dan di nikmati banyak pasang mata. Banyak jenisnya mulai dari prank call, prank balikan sama mantan , sampai prank sembako yang sempat viral.

Pingin terkenal, populer, famous tapi kurang skill, gimana caranya? Do something stupid.

Fenomena zaman ini membuat saya berpikir apakah anak muda hidup nya hanya untuk mengejar tren saja, nampaknya terkenal adalah tujuan utama dalam menjalani kehidupan. Tak peduli apa yang di bagikan, tidak memikirkan etika dan norma-norma yang berlaku dalam kalangan masyarakat, ketika viral artinya itu adalah suatu keberhasilan.

Tren seperti ini tak akan pernah habis, bahkan semakin kita melakukannya semakin kita terpedaya olehnya, semakin kita kejar semakin kita di buat letih olehnya.
Sebagai seorang pembuat konten ataupun yang menikmatinya ada satu hal yang harus kita perhatikan bahwa sebenarnya yang perlu di lihat bukan cuma karya, tetapi juga nilai yang di bawa oleh karya tersebut. Apakah karya tersebut menghasilkan nilai yang semakin mendekatkan kita kepada kebaikan atau malah membuat jauh dan asing dengan adab dan akhlak.

Dalam Islam anak muda di tujukan untuk memanfaatkan masa muda nya, berperan dan berkontribusi dengan apapun yang dimilikinya, kelebihan apapun yang telah Allah berikan kepadanya. Kita tak sama, tidak memiliki kelebihan yang sama tapi kita bisa bersama-sama untuk memilih tidak terpedaya dengan tren dunia yang tak tahu sampai kapan eksisnya.

Sa’d bin Abi Waqqash memeluk Islam pada usia 17 tahun, dia adalah yang pertama kali melepaskan anak panah di jalan Allah.

Al Arqam bin Abil Arqam, orang ke tujuh yang memeluk Islam. Usia 16 tahun belum di kenal keislamannya, dia menjadikan rumahnya sebagai markas dakwah Rasulullah Shallallahu’alahi wasallam.

Muhammad Al Fatih di usianya yang masih muda ia menaklukkan Konstantinopel dengan strategi perang nya yang luar biasa yang bahkan tidak terpikirkan oleh orang lain.

Tak perlu di bandingkan dengan kita, yang kalau sholat saja masih menunda-nunda. Tapi begitu lah, kita tetap bisa berusaha menjadi lebih baik dari diri kita sendiri itupun kalau kita mau. Kita bisa mendidik anak kita menjadi pemuda-pemuda yang luar biasa, dan tentu saja hal ini butuh persiapan.

Dunia tidak membutuhkan pemuda yang terkenal dan gaul saja, dunia membutuhkan lebih dari sekedar itu. Dunia membutuhkan pemuda yang cerdas, yang bekerja keras dan bersungguh-sungguh, dunia memerlukan pemuda yang tak hanya menginginkan ketenaran sementara dengan melakukan hal-hal yang tidak jelas juntrungannya.

Begitu juga sebagai seorang perempuan, anak-anak kita tak memerlukan ibu yang pandai melakukan gerakan gerakan lunglai di iringi dengan musik yang justru menghinakan dirinya sendiri. Seorang anak memerlukan ibu yang cerdas dan tangguh.

Maka benarlah, bahwa sesuatu memang harus di timbang dengan pertimbangan yang matang tentang mana yang bermanfaat dan mana yang tidak, mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yang akan membuat bahagia dan mana kesenangan yang menipu, sesaat dan sementara saja.

Masih ada waktu untuk memperbaiki diri, sebab nafas masih membersamai raga ini. Masih ada waktu untuk membenahi apa yang perlu di benahi, masih ada waktu untuk melahirkan generasi-generasi yang madani. 

Jika bukan kita yang bisa kembali membangkitkan Islam, bisa jadi kebangkitan itu ada di tangan anak-anak kita. Maka mari berbenah, ajakan ini tak hanya untuk para pemuda tapi juga para Ayah dan Ibu sebagai pendidik pertama dalam keluarga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Depresi

Memandang Langit

Untukmu, Dari aku