Salah Menempatkan Karunia
Karunia adalah sesuatu yang kita cintai, kita tunggu dan kita merasa bahagia ketika mendapatkannya. Karunia bisa berupa harta, jabatan juga seseorang. Kita mempunyai rumah, mobil dan barang-barang mewah itu adalah karunia. Kita punya jabatan tinggi dan di hormati itu juga sebuah karunia. Kita memiliki seorang teman atau pasangan yang kita cintai itu merupakan karunia dari Allah. Karunia artinya pemberian atau anugerah bentuk dari belas kasih sang Pencipta.
Sayangnya ketika Allah memberikan karunia, kita sering kali bahagia hingga lupa. Apa yang kita lupa? Kita lupa meletakkan karunia itu pada tempat yang seharusnya, kita malah menempatkannya di tempat yang keliru. Harusnya setiap karunia dari Allah kita letakkan di tangan, tetapi kenyataan yang paling sering kita lakukan adalah meletakkannya di hati.
Ketika hati sudah di isi oleh karunia dari Allah, kita menjadi takut kehilangan dan terikat dengan karunia tersebut. Maka ketika karunia itu hilang atau di ambil oleh Allah kita menangisinya, meratapinya dan tak jarang kita juga menyalahkan sang pemberi karunia.
Ketika sudah bergantung pada apa yang Allah beri, kita lambat laun melepaskan diri dariNya, tidak fokus atau mungkin salah fokus. Kita fokus kepada karunia, dan meninggalkan yang memberikannya.
Harta adalah anugerah dari sang pencipta tetapi kita malah menjadikannya sebagai Ilah, sesuatu yang di sembah. Bagaimana mungkin? Nyatanya kita dengan sangat mudah meninggalkan kewajiban kita sebagai seorang muslim, sholat contohnya. Ketika bekerja kita dengan entengnya menunda-nunda untuk melaksanakannya atau mungkin benar-benar meninggalkannya. Seperti pedagang yang lebih memilih untuk berjualan daripada ke masjid untuk mendirikan sholat jum'at.
Jabatan adalah pemberian dari Allah Sang Maha Raja, tetapi kita lebih sering takut terlambat datang ke kantor dari pada melaksanakan kewajiban kita, kita lebih takut kepada atasan dari pada kepada Allah buktinya kita bisa mempersiapkan bahan untuk presentasi dengan sangat detail, berjam-jam lamanya. Tetapi kita rasanya tidak punya waktu untuk sekedar menyempurnakan wudhu dan gerakan sholat kita.
Pasangan dan teman adalah anugerah dari Allah, tapi kita seringkali lebih takut menyakiti hatinya daripada menghindari murkaNya. Kita lebih takut kehilangan mereka dari pada kehilangan Dia.
Semua ini adalah suatu contoh betapa kita seringkali salah dalam memahami karunia. Salah menempatkan dan salah karena menganggapnya lebih penting. Karenanya Allah mengambil karunia, agar kita bisa kembali fokus dan kita bisa kembali menempatkan perhatian pada yang paling tepat, Dia saja.
Ketika Allah mengambil harta, jabatan atau bahkan pasangan, anak dan yang lainnya yang harus kita pahami adalah Allah hendak memberikan ganti yang lebih baik darinya atau mungkin Allah ingin kita untuk menyudahi keterikatan kepada hal-hal tersebut.
Kehilangan bukanlah akhir, dia adalah obat. Patah hati juga bukan akhir, dia benar-benar obat. Kecewa bukan akhir, dia penawar. Menyembuhkan penyakit hati kita yang terlalu melekat dengan sesuatu.
Kita seringkali menjadi sadar hanya jika kehilangan, dalam proses kehilangan kita melakukan banyak kebaikan. Di antara kebaikan itu adalah lepas dari dunia, melepaskan keterikatan kita dengannya.
Kecewa bukan sebuah akhir, karena sering di kecewakan membuat kita sadar apa yang ada di dunia memang tak akan pernah sesempurna akhirat. Maka kita, tak perlu sibuk-sibuk menjadikannya abadi, memasukkannya ke dalam hati, mengambil alih seluruh perhatian ini.
Saat kita sudah kembali fokus, Allah mengembalikan nya.
Saat kita sudah kembali mampu, Allah mendatangkan nya. Saat kita sudah tak lagi menjadikannya pemilik segala perhatian, Allah memberikannya. Maka benarlah bahwa kita akan di beri sesuatu hanya kalau kita mampu, ketika kita tak lagi menempat nya di dalam hati, Allah menganugerahi atau mungkin Allah memberikan ganti yang lebih baik.
Komentar
Posting Komentar