Sebelum masuk kesini, aku sudah tertarik dengan judul yang mirip puisi milik Sapardi Djoko Damono... Dan tertarik juga dengan isinya yang singkat dan jelas..
Secangkir teh yang tak lagi di buat Dan semut yang kehilangan harapan Kamar yang terus-terusan gelap Dan hati yang penuh dengan kekosongan Fokus yang hilang Perasaan yang tak lagi sehat Kaca yang berdebu Dan pantulan nya yang rancu Suara nyanyian tak lagi indah Makna dan tujuan jadi gusar Di usir dari sepetak kamar Yang di penuhi dengan pikiran kacau Pulang, kata hati Bertahan, kata akal Kau belum siap mati, kan? Belum, jangan dulu
Mungkin langit yang jauh itu tidak tahu, ada insan yang memandangnya dengan terpukau.Tenang karena dia masih ada di sana, bersyukur karena masih bisa melihatnya. Mungkin langit yang jauh itu tak mau sadar, di bawah sini ada yang benar-benar suka padanya. Mungkin langit yang jauh itu tak akan paham, tak peduli mendung atau cerah, ada yang menganggapnya selalu saja indah. Malam itu ku pandangi langit dengan hati haru membeku, dengan sesak jiwa karena kecewa, dengan air mata yang ku tahan agar tak tumpah ruah. Semesta menyimpan banyak cerita yang katanya setiap anak manusia adalah pemeran utama bagi kisahnya sendiri. Aku yang kala itu sebentar lagi pergi, meninggalkan kotamu dan semua mimpi yang baru saja dijalani, ternyata rasanya sangat sulit. Satu dari sekian pertanyaan ku waktu itu adalah "apa semua akan baik-baik saja?" aku juga tak paham apakah itu hanya pertanyaan atau sebuah lintasan keraguan tentang kekuasaanNya. Tapi ternyata memandang langit bisa menjadika...
Ada hari dimana semua terasa lebih tenang. Duduk bersua dengan mu saling menatap tak melepas pandang. Ada masa secangkir kopi tak lagi terasa pahit meski kita lupa menaruh gula. Sebab menyadari bahwa sekarang kamu di sampingku sudah lebih dari kata manis itu sendiri. Ada masa ketika langit terasa lebih cerah walau mendung sedang ada tepat di atas kita. Walau hujan sudah sedikit lagi mengguyur bumi, kamu tahu? Ada yang mungkin lebih dulu meneteskan airnya, mataku. Ada yang lebih dulu basah sebelum bumi, hatiku. Yang lebih dulu bersyukur bahkan sebelum tetesan hujan sampai pada peraduannya, aku karena kamu sudah ada. Disini. Aku ingin belajar memahamimu. Menyampingkan semua ego dan ingin menang sendiri dalam diri ini juga melawan rasa malas, bersabar menghadapi tingkah laku mu yang mungkin tidak aku suka. Semua orang ada kurangnya kan? Aku ingin menerima kamu seadanya, tanpa tapi. Bukan bukan, ini bukan cinta buta. Ada sesuatu yang ku lihat di balik semua ketidaksempurna...
Sederhana, tapi diselesaikan dengan apik. Btw tema blognya bagus
BalasHapusnice poetry. sederhana tapi ngena... semangat kak
BalasHapusAku ingin, itu aku. Penutupnya bikin keseluruhan puisi ini punya sisi magic.
BalasHapussweet .. sukaa
BalasHapusGood Job. Nice
BalasHapusSebelum masuk kesini, aku sudah tertarik dengan judul yang mirip puisi milik Sapardi Djoko Damono... Dan tertarik juga dengan isinya yang singkat dan jelas..
BalasHapusPendek tapi makjleb
BalasHapuskeren puisinya, penuh makna
BalasHapus