Aku Malu

Ku tulis satu kata baru di lembar kosong ini, sekedar membuktikan kalau aku akan selalu siap memulai walau sebenarnya aku tidak tau ingin berbagi apa. Hari ini ku biarkan hatiku saja yang bercerita lewat ketikan-ketikan jari yang menggetarkan layar.

Tanpa persiapan, tanpa outline.

Katanya tulisan itu ajaib, terlebih di zaman yang serba canggih ini. Dia hanya sekumpulan kata yang ku buat dari dalam kamarku yang sedang gelap, menemani sepi ku, menjadi kanvas untuk berlabuh tinta hatiku yang kadang terpendam. Juga cerita-cerita menarik yang dihadirkan sekitar.

Tulisan itu selalu ajaib, aku menulis disini dan tulisanku sampai pada banyak pasang mata yang entah dimana mereka sekarang. Entah sedang berdiri atau rebahan, aku tidak bisa melihatnya. Tulisan ini bisa berjalan melewati ruang dan waktu lalu menyapa, menyapa jiwa-jiwa yang mungkin sedang sama hampa nya, menjadikannya bersemangat.

Entah sampai kapan aku menjadi insan yang tak lelah menggoreskan kata, entah sampai kapan aku jadi manusia yang seperti ini, aku tidak tahu. Tentang apa kalimat terakhir yang ku tulis nanti, aku juga tidak tahu.

Apakah semua yang tertulis ini bermanfaat, aku benar tidak tahu tapi selalu ku semogakan, seringkali menjadi larik, bait-bait doa kepada sang Pencipta. "Rabbi, hamba bermohon kepadamu jadikan setiap yang tertulis adalah kebaikan yang mengalirkan pahala, yang bermanfaat dan yang bisa diamalkan terutama untuk diri yang menulis ini"

Setiap tulisan punya tujuan, setiap tulisan punya pembaca nya sendiri. Ada yang menulis untuk menyembuhkan hatinya, ada yang menulis untuk membagikan hari-harinya. Tidak ada orang yang melakukan sesuatu tanpa adanya sebab pun sebab-sebab itu hanya diri sendiri yang tahu, semoga hati senantiasa ada dalam lingkar yang baik dan tulus.

Tidak percaya diri seringkali jadi alasan untuk berhenti, "aku alay gak ya?" "aku kok gini banget ya?" "Duh, ini menggelikan sekali". Klaim puitis dari orang-orang seringkali berubah konteksnya menjadi negatif dalam pikiranku. Aku tidak ingin di sebut puitis, serius jangan.

Aku malu, begitu kataku.

Tapi ternyata aku menganggap "aku alay" karena pengaruh dari persepsi orang lain, aku mengiyakannya hanya karena mengikuti apa yang mereka katakan, bukan karena aku sendiri. Sekarang ketika aku mempunyai lingkaran pertemanan dengan mereka yang juga suka menulis ternyata aku tidak sealay itu.

Jadi untukmu, yang pernah meragu seperti aku tetaplah ada pada jalan yang bisa membahagiakan hatimu, jikapun berbeda dengan orang lain maka tak apa, sungguh tidak mengapa.

Untukmu, yang pernah merasa tidak pantas untuk melakukan sesuatu, apapun itu. Jangan jadikan berhenti sebagai pilihan, tapi jadikanlah berusaha memantaskan sebagai hal yang akan selalu kau lakukan.

Untukmu, yang sedang bersama dengan insecurity seperti kata orang-orang. Duduklah dengan dirimu sendiri, tanyakan pada hati tentang apa yang membuatmu bisa tidak nyaman dan tidak aman begini.

Apakah itu hanya persepsi orang lain yang kau telan mentah-mentah yang kemudian kau jadikan sebagai nilai inti dari dirimu?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Depresi

Memandang Langit

Untukmu, Dari aku