In Another Time A Different Place


Menyerah adalah kata yang tidak mudah terucap tapi aku mengatakannya, aku memutuskan untuk menyakiti diriku sendiri. Imanku tidak kuat dan hatiku tersentak.

Aku dimatikan oleh keinginan ku sendiri, seperti enggan bunuh diri tapi tetap terbunuh juga. Aku merasa menjadi manusia yang paling berambisi sekaligus paling gagal ketika mendapati kenyataan tidak sesuai dengan keinginan. Semua tampak mengecewakan, sepenuhnya.

Aku rapuh, rasanya ingin mati saja. Aku merasa tidak ada yang paham akan diriku, bahkan aku sendiri tidak bisa mengerti. Mencerna kejadian yang datang secara tiba-tiba dalam waktu singkat bukan keahlian ku, aku tidak bisa.

Tanpa sadar kekacauan ini menjadikan ku manusia yang terus menerus mencari alasan. Mencari sebab kenapa semua ini terjadi. Aku mencari hal yang bisa meredakan segala keresahan, aku ingin tenang tapi tidak juga ku temukan yang ada aku hanya mengeluhkan.

Pencarian alasan itu tidak juga selesai, akhirnya aku memaksa pulang apa yang belum mau hilang dengan sekuat tenaga dan sekeras-kerasnya usaha yang aku bisa, aku ingin segera selesai.

Aku ingin menyembuhkan hatiku yang terkecewa dan lelah. Apa alasannya? aku tidak peduli, siapapun tolong beri tahu aku agar aku bisa menjadi lega dan aku menjadi insan yang mampu menerima.

Sebuah perjalanan panjang, hingga akhirnya aku menemukan alasan. Bukan alasan kenapa semua ini terjadi, tetapi kenapa aku harus memaafkan, kenapa aku harus mengikhlaskan semua ketidaknyamanan ini ada di dalam diriku. Aku menemukan alasan tentang kenapa aku harus kembali melangkah?

Di sana, di waktu yang berbeda akan selalu ada harapan. Ada yang mengharapkan ku berdiri tegak, ada yang tidak ingin aku terus menjadi nestapa, ada yang rela menghabiskan waktunya untuk aku menjadi diriku yang lebih baik lagi.

Di sana, in another time a different place ada yang berharap aku menjadi manusia yang tak lagi resah, atas segala takdir yang akan menyapa.

Di sana akan ada aku untuk diriku sendiri, nyatanya aku tidak perlu mencari alasan jauh-jauh, cukup masuk ke jauh dalam hati dan bertanya tentang apa yang dia ingin kan sebenarnya.

Ternyata aku mencintai diriku sendiri, aku menghargai nya. Aku tidak ingin menjadi diriku yang menyedihkan, yang tidak lagi punya harapan, yang mudah lupa indahnya kehidupan. Sungguh jauh di dalam diriku aku tidak ingin, aku tidak ingin begini saja.

Maka bertanya aku pada diriku sendiri, apa sekarang aku sudah hidup?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Depresi

Memandang Langit

Untukmu, Dari aku