Menjawab Soalan Menikah
Menikah merupakan salah satu momen paling penting dalam hidup seseorang. Siapa yang tidak ingin menikah, bersama yang dicinta mendapatkan sakinah yang dijanjikanNya.
Ngomongin tentang menikah, ketika memasuki usia yang sudah di anggap pantas orang-orang seringkali mempertanyakan nya, "Kapan nikah?" begitu kata mereka
Bagi kebanyakan orang pertanyaan ini cukup menyebalkan, walaupun ada juga yang menganggapnya biasa saja. Menjawab soalan menikah sering kali tak mudah, ya kadang lebih sulit dari pada jawab soal Ujian Nasional, eh gimana-gimana?
Tipe tiap orang berbeda-beda, bagaimana merespon pertanyaan yang terkesan retorik ini. Tipe umum jawabnya "Doain aja ya", tipe santuy jawabnya "Pokoknya ahad, hari libur, pokoknya kalo gak hujan deh", ada juga tipe ngegas "Emangnya kalo gue nikah lo mau ngasih apa?"
Tak hanya itu, banyak juga dari kita ketika sudah merasa pantas dan di umur yang sudah matang menjadi resah dengan pertanyaan ini. Satu pertanyaan kapan nikah nyatanya bisa menimbulkan pertanyaan-pertanyaan lain. "Temen-temen gue udah pada nikah, gue kapan ya?" begitulah
Sebenarnya menikah adalah ketetapan Allah, yang bisa kita lakukan adalah berusaha mempersiapkan diri agar Allah melihat kita sebagai seseorang yang sudah pantas untuk menikah, mengemban tanggung jawab yang tentunya lebih banyak. Karena ketika telah menikah akan banyak yang berubah, semua takkan pernah sama lagi, kamu tak akan menjadi manusia yang bebas begitu saja dalam menentukan pilihan.
Salah satu yang perlu kita perhatikan lagi ialah makna dan tujuan dari menikah itu sendiri, sebenarnya untuk apa dua insan yang awalnya tak saling kenal dipersatukan?
Mengapa kita memilih jalan pernikahan? Karena pernikahan adalah syariat Allah. Mengapa kita menjadikan pernikahan sebagai prioritas bagi hidup kita? Sebab Allah telah menunjukan nya sebagai jalan untuk mengelola anugerah Allah berupa cinta, hawa nafsu, syahwat, dan anugerah Allah berupa potensi-potensi untuk membangun perubahan kecil yaitu keluarga.
Sebelum kita membimbing masyarakat, memperbaiki Negara dan membebaskan Negeri-Negeri Islam maka harus tumbuh masyarakat baru dari keluarga-keluarga baru yang kemudian di bina dengan nilai-nilai keislaman sebagaimana Hasan Al Banna mengatakan bahwa langkah-langkah mengembalikan kejayaan Islam yang pertama adalah Ishlahun nafs atau perbaikan diri dan takwinul baitul muslim, yaitu membina keluarga Islami.
Jika kita memaknai nikah sebagai ibadah, maka mempersiapkan nya menjadi hal yang sangat penting lebih penting daripada kapan dan siapa yang akan menjadi pasangannya kelak.
Ketika kita memaknai menikah sebagai jalan untuk lebih taat pun langkah untuk melahirkan generasi yang madani, maka kita tidak akan ada urusan dengan siapa yang paling cepat. Kita tidak menganggap menikah sebagai perlombaan, tetapi lebih dari itu. Tentang siapa yang paling siap dan siapa yang paling tepat persiapannya.
Ketika kita paham akan gambaran pernikahan, kita tidak akan terburu-buru, grasak-grusuk, dan menggebu-gebu hanya karena melihat banyak teman yang sudah lebih dulu menikah. Ketika kita bilang kita ingin nikah, kita bukan cuma berucap saja tetapi juga serius mempersiapkannya.
Menikah bisa menenangkan, mengutuhkan dan menjadikan kita lengkap namun menikah bukan sekadar mencari pasangan melainkan mencari ibu yang baik untuk anaknya bagi para laki-laki, pun sebaliknya.
Seseorang yang tidak siap untuk menjadi orang tua, akan merasa stres di masa yang akan datang. Lalu mereka akan melahirkan generasi yang stres pula. -Asma Nadia
Kelak setelah menikah waktu kita sempit, belum puas belajar jadi suami/ istri, tiba-tiba sudah menjadi Ayah/ Ibu. Maka segeralah belajar menjadi orang tua. -Salim A. Fillah
Maka tugas kita tak hanya mencari pasangan saja, tetapi mencari dia yang pantas untuk mengemban tanggung jawab menjadi orang tua. Maka tugas kita bukan hanya bilang ngebet nikah saja, lebih dari pada itu. Ialah tentang mempersiapkan diri, mempersiapkan ilmu agar bisa menjadi suami istri & ayah ibu yang baik. Maka benarlah, terdapat sebuah visi yang besar kenapa kemudian Allah menjadikan kita berpasang-pasangan.
Teruslah belajar meskipun tidak tahu kapan waktunya dan apakah umur kita akan sampai kesana. Sejatinya kita tetap punya pilihan untuk berusaha dan semoga setiap usaha bernilai pahala.
Jadikan berusaha sebagai pilihan, sandarkan semua pengharapan kepada Allah Sang pemilik takdir. Teruslah melangit kan doa karena perfect time itu Allah yang paling tahu
وَا لَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَـنَا مِنْ اَزْوَا جِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّا جْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَا مًا
"Dan orang-orang yang berkata, Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa."
(QS. Al-Furqan : 74)
Komentar
Posting Komentar